Elektabilitas Terus Turun, Ahok Kalah oleh Dirinya Sendiri


Elektabilitas pasangan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dan Djarot Saiful Hidayat diprediksi bakal anjlok terus. Penurunan ini akibat ulah dan kelakuan Ahok sendiri yang dinilai angkuh dan antikritik. Selain itu, penggusuran secara semena-mena, dan kasus penistaan agama, sangat berperan menurunkan popularitas mantan Bupati Belitung Timur itu. Ahok kalah dengan dirinya sendiri, sehingga elektabilitas tak bisa tertolong lagi.

Sekretaris tim kampanye pasangan bakal calon gubernur-wakil gubernur DKI, Anies Baswedan-Sandiaga Uno, Syarif, menilai, elektabilitas Ahok i turun terus karena ulahnya sendiri. Syarif menilai Ahok sebagai orang yang sombong dan anti-kritik sehingga elektabilitasnya menurun.

"Makin lama menunjukkan elektabilitasnya turun ya karena dirinya sendiri. Sombong, angkuh, tidak mau dikritik, kalah oleh dirinya sendiri," ujar Syarif di posko pemenangan Anies-Sandiaga, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (11/11/2016).

Selain itu, menurutnya, penggusuran yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta juga menjadi penyebab turunnya elektabilitas Ahok. Menurutnya, Ahok tidak bisa melakukan pendekatan dengan warga sehingga semakin banyak yang tidak menyukai figur mantan Bupati Belitung Timur itu.

"Petahana itu gagal fokus, inginnya melakukan penertiban, tetapi tujuannya blunder. Dalam kajian kami, penggusuran itu tidak tepat pendekatannya, dikritik enggak mau," ujar dia.

Realitas

Sementara itu Ketua DPD DKI Partai Gerindra DKI Jakarta Mohammad Taufik, menilai, merosotnya elektabilitas Ahok-Djarot yang diusung oleh PDI-P, Golkar, Hanura, dan Nasdem, akibat kelakuan Ahok sendiri. Ia memprediksi, penurunan tersebut akan terus menerus jelang Pilkada DKI 2017 mendatang.

"Menurun kan? Saya kira itu mah biasa ya, incumbent itu teorinya kalo udah menurun, ya akan menurun terus," kata Taufik di posko pemenangan Anies-Sandi di Cicurug 6, Jakart Pusat, Jumat (11/11/2016).


Lebih jauh Taufik menjelaskan, polling yang dilakukan terhadap calon petahana itu adalah sebagai bentuk realitas. Jika sudah menurun, lanjut Taufik, maka akan terus menurun ke depannya. "Ya saya kira itu realitas kali ya, sekali ya turun terus," kata Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta itu.

Pengamat politik LIPI Siti Zuhro mengatakan, turunnya elektabilitas Ahok sebagai sesuatu yang wajar karena pemilih di Jakarta sebagian adalah massa mengambang.

Menurutnya masalah suku dan etnisitas tidak sesensitif isu agama. Karena agama menyangkut masalah keyakinan dan keimanan. Apalagi dalam Islam ada rukun Iman dimana Al Quran merupakan salah satu rukum iman, percaya kepada Al Quran.

Namun Siti menegaskan kondisi sekarang dan hasil survei yang menunjukkan elektabilitas Ahok turun, menjadi kesimpulan siapa yang akan menang dalam pilkada DKI 2017 mendatang. "Kita tidak bisa menyimpulkan siapa yang akan menang dalam pilkada nanti. This is too early and too soon to make a conclusion," ungkapnya.

Belum Panas

Nada berbeda diungkapkan oleh ‎Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDI Perjuangan DKI Jakarta, Gembong Warsono. Ia tak membantah tren elektabilitas pasangan petahana, Ahok-Djarot merosot sebagaimana hasil riset Lembaga Survei Indonesia (LSI).

Ia memaklumi, karena mesin partainya belum bergerak. "Mesin partai belum dipanaskan, jadi belum bergerak," singkat Gembong saat dihubungi di Jakarta, Jumat (11/11/2016).

Salah satu Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta ini berpendapat penurunan elektabilitas tersebut hanya sesaat karena warga Jakarta masih euforia atas munculnya calon lain yang di luar dugaan. "Kalau mesin partai sudah bergerak kencang, kami yakin elektabilitas Ahok kembali melejit di atas 50 persen. Tunggu saja," ujar Gembong.

‎Untuk diketahui, ‎dugaan penistaan agama yang berujung pada demo 4 November, lalu membuat elektabiltas pasangan cagub-cawagub nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merosot. Hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) pimpinan Denny JA mencatat, elektabilitas pasangan petahana itu turun 6,8%.

"Elektabilitas Ahok-Djarot cenderung terus menurun. Dalam sebulan elektabilitas Ahok turun 6,8 persen. Maret 2016 elektabilitas Ahok-Djarot 59,3 persen, Juli 49,1 persen, Oktober 31,4 persen dan November 24,6 persen," kata peneliti LSI Adjie Alfaraby di Kantor LSI, Jakarta, Rabu (10/11/2016). (ht) DVD MURATTAL
Share on Google Plus

About Muslimina

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment